![]() |
Ketua DPR Puan Maharani dalam rangkaian Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI 2026 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan / ist |
JAKARTA | Pelita Aceh.com — Ketua DPR RI Puan Maharani menyebut perkembangan dunia digital menimbulkan masalah baru, yaitu manipulasi konten. Puan menyinggung DPR RI yang kerap menjadi korban informasi keliru.
Hal itu disampaikan Puan dalam pidato pembukaan Rapat Paripurna ke-1 Masa Persidangan I Tahun 2026-2027, Jumat, 14 Agustus 2026.
Puan awalnya menyebut di tengah derasnya arus informasi, semua pihak harus menjaga ruang publik agar tidak diisi oleh pihak yang ingin memecah belah.
"Di tengah ketidakpastian global, persaingan geopolitik, fragmentasi ekonomi, dan derasnya arus informasi, kita harus menjaga ruang publik agar tidak dikuasai oleh politik kebencian, polarisasi, dan kepentingan yang memecah belah," kata Puan.
Lebih lanjut, Puan mengatakan perkembangan digital membuka ruang bagi masyarakat untuk menerima informasi lebih luas dan melakukan kritik. Namun arus informasi yang makin besar itu juga membawa informasi-informasi yang dimanipulasi.
"Derasnya arus informasi juga membawa tantangan tersendiri yaitu berupa disinformasi, hoaks, serta konten yang dimanipulasi atau dilepaskan dari konteksnya, yang dapat memperuncing polarisasi dan mengaburkan batas antara kritik yang membangun dengan provokasi yang memecah belah," ujarnya.
Puan menyinggung DPR RI juga kerap menjadi sasaran informasi yang keliru. Mulai dari kutipan palsu, hingga kemunculan video lama yang tidak sesuai konteks.
"Dalam konteks DPR RI, juga ditemukan berbagai informasi yang tidak benar, seperti kutipan palsu yang mengatasnamakan pimpinan atau anggota DPR, informasi keliru mengenai sikap DPR terhadap pembahasan Rancangan Undang-Undang, serta penggunaan video lama atau old footage dengan narasi baru yang tidak sesuai konteks," ucapnya.
Puan meminta kondisi ini perlu disikapi secara kritis. Jangan sampai rakyat diposisikan menjadi dua pihak yang bertentangan.
"DPR RI dan rakyat tidak semestinya diposisikan sebagai dua pihak yang saling berhadapan, bahkan dipertentangkan," tuturnya.


Social Footer