Turut hadir Ketua DPN Tani Merdeka Don Muzakir, Ketua DPW Tani Merdeka Provinsi Aceh Cut Muhammad, Kadis PMG Aceh Besar Jakfar SP, M.Si, Kalaksa BPBD Aceh Besar Ridwan Jamil, SSos., M.Si., Kadis Pangan Aceh Besar Alyadi S.Pi MM, Kabid Peternakan Aceh Besar Uzir SPt MSi, Camat dan Forkopimcam Ingin Jaya, Camat Lembah Seulawah Zahri SE, M.Si serta jajaran pengurus DPD Tani Aceh Besar.
Pengukuhan ini dilakukan setelah penyerahan tugas Ketua sebelumnya, Nabhani SIKom yang ditarik membantu kepengurusan DPW Tani Aceh sebagai Sekretaris DPW. Untuk mengisi kekosongan tersebut, Cut Muhammad mewakili DPN Tani Merdeka Indonesia secara resmi mengukuhkan Tgk. Bahagia, SH sebagai Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Aceh Besar masa bakti 2026–2031.
Dalam perayaannya, Bupati Aceh Besar dihadiri Asisten II Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Aceh Besar Bidang Perekonomian dan Pembangunan, MAli, S.Sos., M.Si yang juga Plt Kadis Pertanian Aceh Besar menyampaikan penghargaan dan ucapan selamat atas pelantikan pengurus baru. Ia berharap kehadiran Tani Merdeka dapat semakin memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dalam meningkatkan kesejahteraan petani.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, kami mengucapkan selamat kepada pengurus DPD Tani Merdeka Indonesia Aceh Besar. Mudah-mudahan dapat berkontribusi besar bagi para petani dan bersinergi dengan pemerintah daerah,” ujarnya.
M. Ali yang juga menjabat sebagai Plt. Kepala Dinas Pertanian Aceh Besar mengungkapkan kebanggaannya atas pencapaian Tani Merdeka sepanjang tahun 2025 yang berhasil menanam jagung seluas 600 hektar lebih. Untuk tahun 2026, targetnya diperluas menjadi 1.000 hektar, bahkan pemerintah mendorong agar bisa melampaui angka tersebut.
Menurutnya, jagung merupakan salah satu komoditas strategis yang turut berkontribusi terhadap inflasi, selain beras, bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, dan gula. Kebutuhan jagung untuk pakan ternak, khususnya ayam petelur, masih sangat tinggi dan sebagian besar dipasok dari luar daerah.
Selain jagung, Pemkab Aceh Besar juga mendorong peningkatan produksi padi. Saat musim tanam rendengan (meugoe thon), seluruh lahan sawah seluas sekitar 23.000 hektar dapat ditanami padi. Namun pada musim tanam gadu, keterbatasan daya tampung udara di Krueng Jreu dan Krueng Aceh membuat areal tanam dibatasi sekitar 8.000 hektar.
“Karena keterbatasan udara, kami mendorong program menanam padi gogo di musim gadu, karena padi gogo lebih tahan kering. Selain itu, petani juga kami berharap menanam cabai, bawang merah, dan komoditas lain sesuai wilayah potensi masing-masing,” jelasnya.
Ia juga menyoroti tingginya kebutuhan telur ayam untuk program SPPG atau Makan Bergizi Gratis (MBG). Saat ini, Aceh Besar memiliki 40 SPPG aktif dengan kebutuhan sekitar 120.000 butir telur per hari setiap kali masak. Namun pasokan masih didominasi dari luar daerah.
“Kalau jagung kita bisa produksi sendiri, bisa bekerja sama dengan peternak ayam petelur di Aceh Besar. Ini akan memperkuat ekonomi lokal dan membantu stabilisasi harga,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Aceh Besar yang baru dikukuhkan, Tgk. Bahagia, SH menyampaikan terima kasih atas amanah yang diberikan. Saya berkomitmen melanjutkan semangat dan program yang telah dirintis sebelumnya.
“Alhamdulillah tahun 2025 kita berhasil menanam 604 hektar jagung yang tersebar di beberapa wilayah. Tahun 2026 ini kita targetkan 1.000 hektar. Insya Allah dengan kerja sama Dinas Pertanian, TNI/Polri dan semua pihak, Aceh Besar layak menjadi daerah pertanian nomor satu di Provinsi Aceh,” tegasnya.
Ketua sebelumnya, Nabhani SIKom, juga memberikan dukungan kepada kepengurusan baru. Ia berharap sinergi dengan pemerintah daerah terus diperkuat, terutama dalam pengembangan 14 komoditas ketahanan pangan yang telah ditetapkan pemerintah pusat, termasuk padi dan jagung yang sudah berjalan di Aceh Besar.
“Program ketahanan pangan ini bukan sekedar target, tapi bagaimana kita benar-benar memastikan petani mendapatkan manfaat ekonomi yang nyata,” ujar Nabhani.
Ia juga menekankan pentingnya validitas data dalam pengajuan ke pemerintah pusat, terutama untuk alat dan mesin pertanian (alsintan).
“Kalau data kita kuat dan benar-benar ada aktivitas tanam di lapangan, insyaallah pemerintah pusat akan lebih mudah mengalokasikan bantuan alsintan untuk Aceh Besar,” ujarnya.
Selain itu, Nabhani mendorong para pengurus tingkat kecamatan untuk lebih aktif menggali potensi wilayah masing-masing.
“Kita punya lahan yang luas dan potensi besar. Tinggal bagaimana kita mengelolanya secara serius dan terkoordinasi. Kalau ini berjalan, Aceh Besar bisa menjadi salah satu lumbung pangan utama di Aceh,” tambahnya.
Ia juga optimistis pengurus baru di bawah kepemimpinan Tgk. Bahagia mampu membawa organisasi semakin maju.
“Saya yakin dengan semangat kebersamaan dan dukungan semua pihak, kepengurusan baru ini mampu melanjutkan bahkan meningkatkan pencapaian yang sudah kita raih sebelumnya,” tutup Nabhani.
Dengan semangat kebersamaan dan dukungan lintas sektor, Tani Merdeka Indonesia Aceh Besar optimis memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di daerah tersebut.(**)


Social Footer